Friday, March 6, 2009

Bedol Blog

Pindahan blog ke
http://architectureurban.wordpress.com/

Saya bersuburbanisasi ke wordpress, sampai ketemu di versi wordpress.

Dengan ini versi blogger saya tutup.

Wednesday, February 11, 2009

Perempuan dan Perjalanan

Seperti judul novel ?

Mungkin ?

Lagi romantis dan picisan ? Jangan-jangan iya ! Baru saja selesai nonton episode 8 Hana Yori Dango versi Korea dan masih ada 4 lagi yang belum ditonton.

Hari ini didepan kelas saya bercerita tentang sustainable transportation. Lalu apa hubungannya dengan perempuan. Jelas transportasi pasti berhubungan dengan perjalanan. Tapi dimana posisi perempuan dalam transportasi berkelanjutan ?

Benang merahnya ada pada 'kebiasaan' perempuan untuk melakukan perjalanan.

Perencana pola transportasi terkadang tak hanya perlu melihat teknikalitas peletakan jalan. Namun terkadang dia perlu memposisikan diri sebagai pengguna jalan. Siapakah dia ?
Kononnya menurut studi, pola perjalanan antara pria dan wanita berbeda. Kebutuhan mereka berbeda. Namun perencana transportasi makro mungkin hanya melihat secara keseluruhan.

Secara tradisional, perempuan konon cenderung melakukan perjalanan berdasarkan keperluan rumah tangga (household purpose traffic) - dan tentunya mungkin ini mengesampingkan peran dualisme perempuan, yang terkadang memang ibu rumah tangga dan wanita karier disaat bersamaan. Sifat perjalanan wanita kemudian disebut sebagai Trip chain (multiple purpose and multiple destination in single trip). Mereka perlu fleksibilitas dan tarif murah. Disamping itu haruslah ramah-tidak ada itu istilahnya colek-colek di bus.

Sementara belahan jiwanya disebut-sebut melakukan perjalanan linear alias destination oriented. Pria butuh yang cepat, reliable dan aman.

Yang menarik adalah kebiasaan perempuan yang disebut-sebut gemar melakukan trip chain, alias berbagai tujuan dalam 1 kali perjalanan. Istilahnya sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.

Saya pribadi ternyata perempuan - apabila dilihat dari pola transportasi saya. Saya senang menyatukan perjalanan. Kalau bisa 1 hari sibuk di jalan, supaya 5-6 hari saya tidak terlalu sibuk. Dan hari ini menjadi salah satu yang tersibuk, ketika pagi hari sudah mulai melakukan perjalanan.
Stop pertama adalah ke bank - ambil uang dan urusan dengan CS.
Stop kedua adalah studio foto - demi foto visa
Stop ketiga adalah Kedubes India - disitu masih bisa menyelesaikan SAP dan sebagian powerpoint - terima kasih untuk layanan Kedubes yang memang super lama.
Stop keempat adalah UPH untuk 2 kelas. Dan kelas terakhir adalah memberi kuliah dengan salah satu topiknya adalah transportasi
Stop kelima adalah bengkel untuk periksa ban.
Stop keenam adalah supermarket
Stop ketujuh adalah American Idol - alias sudah sampai rumah, telat sedikit jam 5.30 sore.

Ternyata saya perempuan ... bagaimana dengan pola perjalanan perempuan lainnya ?

Thursday, January 15, 2009

Studio Perancangan Arsitektur 4: Class of 2009

Tugasnya selalu bangunan mixed-use. Tapi kali ini saya mengharapkan mereka untuk sedikit berani mengambil tantangan. Ayo coba di area Kota yang padat, atau di daerah peruntukan rusunami, atau di dekat hub transportasi.
Bebaskan diri kalian dari mixed-use yang sudah ada di Jakarta, ada begitu banyak kemungkinan di luar sana.
Lebih peka dan semoga ini menjadi kelas yang menarik.

Tuesday, January 13, 2009

Sustainable Development and The Urban Environment: Class of 2009

Kembali dibuka, kelas pilihan terbaru di Universitas Pelita Harapan, dengan tajuk Sustainable Development and The Urban Environment (Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Perkotaan).
Semua mata kuliah, tugas, bahan bacaan dan soal ujian serta hasil seminar mahasiswa dapat diakses oleh publik disini, sebagai bagian dari rasa tanggung jawab moral saya sebagai dosen.

Karena pembangunan berkelanjutan memiliki arti yang demikian luas, maka saya menempatkan embel-embel Lingkungan Perkotaan sebagai pembatas dan konteks pembicaraan. Sesuai dengan namanya: Sustainable Development, maka cakupannya pun sangat luas, dan bukannya tak jarang diinterpretasikan melenceng. Dimanakah posisi yang tepat untuk melihat isu keberlanjutan ini ? Sementara ketiga faktor utamanya (ekonomi, sosial, lingkungan) kadang saling berbenturan. Disinilah negasi dibutuhkan, mediasi, toleransi dan partisipasi memegang peranan.

Selamat menikmati mata kuliah ini. Semoga dapat membuka perspektif baru, atau setidaknya menambah wawasan bagi si pembaca.

Thursday, January 8, 2009

Kambing Hitam atau Kambing Putih ?

Masih belum lari dari Trowulan. Maafkan jika saya terlalu sinis pada profesi sendiri. Maafkan juga ada penggemar arsitek ini, lalu menganggap saya main hakim sendiri (padahal tidak kenal orangnya).

Sudah hampir 1 minggu ini, halaman depan dan seksi Humaniora Kompas pasti tidak absen menghadirkan berita terkini Trowulan. Sementara harian seperti Jakarta Post sama sekali tidak pernah menyinggung Trowulan.

Kali ini keluarlah pembelaan pihak arsitek, yang diwakili oleh IAI Jabar - sebagai 'pembela'. Memang sudah jadi kewajiban bagi tiap asosiasi untuk membela anggotanya, terutama bagi anggotanya yang pernah menjabat sebagai Dewan Kehormatan IAI Jabar.

Demikian judul artikelnya:
Arsitek jadi "Kambing Hitam" Pembangunan PIM

PIM itu sayangnya bukan Pondok Indah Mall jilid ketiga, keempat, dan seterusnya, sayangnya itu Pusat Informasi Majapahit. Dan sebetulnya tidak salah juga disebut sebagai PIM, karena memang itulah inisialnya, sekaligus masterplan dari kedua PIM itu hampir-hampir mirip, alias tersedia tempat parkir super luas - dan tentunya keduanya berada diluar konteks, entah itu konteks perkotaan (kalau Trowulan per rural an kali ya) atau lingkungan.

Disitu Ketua IAI Jabar membela Baskoro Tedjo dengan mengatakan demikian:
pihak yang bertanggung jawab adalah pembuat masterplan kompleks.
"Dari pengakuan Baskoro, sebelum dia membuat desain peta lokasi PIM, masterplan sudah jadi. Seharusnya pembuat masterplan ini yang harus mempertanggungjawabkan hasil karyanya."
"Dalam kasus ini, Baskoro hanya menangani secuil dari masterplan yang ada, tetapi dijadikan kambing hitam. Yang perlu ditelurusi adalah siapa pembuat masterplan itu ?"
Walaupun di Kompas dua hari sebelumnya menulis demikian:

Saya merasa, situasi ini sedikit mirip dengan situasi akademik, terutama dalam proses studio. Mahasiswa dalam studio arsitektur diberi tugas dari sang dosen (sebagai klien atau bukan), kadang dalam bentuk lokasi hingga masterplan bohong-bohongan.
Bedanya dengan Baskoro Tedjo, mahasiswa melihat soal yang diberikan dari sang dosen adalah mutlak, mereka wajib merancang di lokasi yang terpilih, walaupun lokasi tersebut sangat kontroversial (hei, bukannya tak mungkin situs Trowulan dijadikan lokasi untuk studio selanjutnya). Mereka wajib, karena mereka ingin lulus.

Sedangkan arsitek PIM adalah orang yang sudah melewati segala proses kemutlakan itu. Semuanya tergantung pilihan dia, tidak ada lagi reviewer atau guest crit yang bakal menginjak-injak modelnya atau mencela-cela konsepnya hingga melihat apakah gambar site plannya lupa dikasih tanda Utara atau tidak.
Disini dia adalah individu bebas yang punya pilihan sekaligus bijaksana, setelah melewati proses praktek dan pendidikan yang panjang.

Terlepas dari siapa pembuat masterplan itu, arsitek berhak menyuarakan keberatannya terhadap masterplan - apabila memang dia (sebelumnya) memiliki pendapat bahwa masterplan itu bisa membahayakan situs. Bahwa (mungkin) tempat parkir disitu persis kayak tempat parkir Dufan. Bahwa lokasinya terlalu dekat dengan situs, atau bahwa lokasi untuk bangunan yang seharusnya didesain olehnya seharusnya berada di tempat lain.
Arsitek pula dalam segala pengalaman praktek maupun akademisnya, memiliki kewajiban untuk menghadirkan solusi terbaik.
Tapi dia pun juga punya hak untuk mengacuhkan semuanya itu, dan the show must go on, dan masterplan itu adalah mutlak.

Tapi sayangnya artikel Kompas itu tidak memperlihatkan maupun menunjukkan pergolakan, apalagi penolakan dalam diri arsitek. Mungkin harus menunggu sekuel dari artikel kambing hitam ini, atau klarifikasi dari arsitek, apakah dia pernah mengajukan keberatan-keberatan diatas - atau malah sebetulnya ingin berhenti dari proyek ini.

Site Plan PIM:

Denah PIM:


Perspektif PIM:





Sunday, January 4, 2009

Mereka membuat saya marah

Bukan Gaza, bukan Israel, bukan kelangkaan BBM, bukan juga karena pemerintah mengeluarkan aturan konyol soal fiskal - walaupun saya tidak kena efek harus bayar fiskal sih.

Sebelumnya berita ini sudah mewarnai edisi Kompas terdahulu, namun laporan detail mengenai rusaknya situs Trowulan benar-benar membuat pedih hati dan marah.
Saya tidak akrab dengan kisah kerejaan Majapahit dan tentu saja tidak pernah menginjak Trowulan hingga saat ini.

Melihat halaman 17 Kompas Minggu, 4 Januari 2009, seperti melihat awal mula kehancuran suatu identitas, dan saya sepakat dengan judul artikelnya: Ketika Sejarah Dinistakan.....
Bagi saya pribadi, tanpa perlu membaca lebih lanjut berita Kompas itu, foto-foto situs yang dirusak oleh konstruksi moderen begitu menyedihkan - dan keterlaluannya memiliki dampak yang sama ketika saya menonton Schindler's List untuk pertama kalinya.
Penanda konstruksi bata bangunan era Majapahit direndahkan, dipotong demi berdirinya Trowulan Information Center - rancangan Baskoro Tedjo.

Satu-satunya situs kota kuno di Indonesia dirusak demikian parahnya, hanya demi macam-macam alasan konyol, seperti sumur purba diJEBOL demi memasang tulangan baja ! Dan dengan entengnya, si Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala berdalih: " Memang HARUS ada (situs) yang rusak, tapi yang rusak itu bukan bagian penting."
Keharusan yang ditekankan kepala sebuah balai yang seharusnya MELINDUNGI peninggalan kebesaran sejarah, seakan mengiyakan bahwa Indonesia adalah negara yang tidak bisa menghargai masa lalu. Seperti tulisan Bre Redana: atas nama proyek pembangunan, apa yang terkubur di bawah tanah dianggap tidak ada.
Sama seperti ketika dulu Suharto 'mengubur' Soekarno, dan kinipun tanah yang sama lebih memilih untuk meniadakan dan mengubur kerajaan maritim terbesar pada jamannya.

Tulisan marah-marah seperti ini, bukannya tak mungkin selalu menyertakan preseden dari luar negeri, seperti bagaimana Jean Nouvel dengan Gallic-Roman Museum nya yang justru melindungi situs, atau Chris Johnson dengan Sydney' Music Conservatorium nya. Percuma saja dibandingkan - karena pada akhirnya Sang Arsitek lebih suka membangun baru dibandingkan bernegoisasi. Dari sekian banyak dana (25 milyar) dan dari sekian banyak teknologi konstruksi, serta dari sedemikian luasnya situs Trowulan, ataupun berbagai macam solusi desain, mengapa harus cara seperti ini yang diambil ?
Apakah karena ini adalah jaman serba instan, fast-food dan teknologi kuantum maka teknologi membangun ala rumah sederhana lah yang diambil ? Pendekatan ala membuat ruko kah yang diambil. Dan gilanya semua konstruksi bata Majapahit itu hanya 50 cm dari permukaan tanah sekarang ! Bahkan untuk mengubur jenazah pun perlu '6 feet under', sementara situs yang begitu dekat dengan jarak satu-dua cangkul teramat mudah dilupakan hingga dianggap tidak ada.

Saya tidak kenal arsiteknya, dan saya tidak tahu bagaimana denah maupun rencana tapak secara detil - tapi contoh dari beberapa foto-foto Kompas memprovokasi hingga membuat saya menuduh serta melupakan asas praduga tidak bersalah. Terlepas dari segala perdebatan tentang desain, konstruksi maupun bahan bangunan, yang menjadi pertanyaan - begitu pentingnya kah bangunan yang disebut Trowulan Information Center itu ? Sampai harus seluar lebih dari 3600m2 ? Sampai harus selesai sebelum Pemilu ? Sampai harus bisa diresmikan oleh SBY ?

Mengutip sedikit dari Michel de Certeau, sambil mengubah nama kota yang ada di kalimat itu (New York) menjadi Indonesia.
Indonesia has never learned the art of growing old ...
Its presents invents itself, from hour to hour, in the act of throwing away its previous accomplishments ....

Hentikan Pembangunan Situs Trowulan

Friday, January 2, 2009

Hembusan Angin Segar dari Madrid


Jakarta sedang mengalami kritis ruang hijau, dalam periode 1965-1998 saja, ruang hijau kota telah menyusut dari 37.2% hingga hanya tinggal 9.6% saja. Ruang hijau berubah menjadi apartemen, pusat perbelanjaan dan pom bensin. Ruang hijau yang sedianya menjadi paru-paru kota, terabaikan. Isu global warming seakan hanya menjadi tren semata, saat para media, korporasi, institusi, dan individu hanya berlomba-lomba mengangkat tren itu, sementara perusakan hutan bakau di pesisir Jakarta masih terjadi dan jalur hijau di daerah tertentu, yang sudah sangat minimal, hilang berganti menjadi lajur transportasi, atau megaproyek terbaru bukanlah hutan kota melainkan megastruktur proyek hunian dan pusat perbelanjaan.

Hilangnya ruang hijau berdampak besar bagi kota, meningkatnya suhu kota, terutama pada pusat aktivitas yang minim ruang terbuka hijau, atau kerap disebut Urban Heat Island. Pohon yang mampu menghasilkan oksigen sekaligus menjadi filter polusi kendaraan bermotor seakan hanya menjadi aksesoris kota. Apabila akhirnya ruang hijau harus mengalah demi kepentingan pembangunan dan transportasi, adakah cara untuk mengganti ruang hijau yang hilang itu. Salah satu cara adalah dengan memperbanyak taman atap pada bangunan, yang bisa terwujud dengan partisipasi para pebisnis dan pemilik bangunan di Jakarta diperkuat dengan campur tangan pemerintah.

Walaupun pada akhirnya taman atap memiliki beberapa isu, seperti proses konstruksi dan perawatan yang mahal, yang pada akhirnya terkadang dinilai tidak ekonomis pada beberapa proyek tertentu. Taman atap pun tidak memberikan kontribusi besar pada komunitas sekitarnya – selain pengguna bangunan tersebut. Pada akhirnya memang taman atap mampu mengurangi suhu di pada atap – terutama pada bangunan tinggi, namun tidaklah berpengaruh besar pada suhu di permukaan jalan, dimana masyarakat kebanyakan beraktifitas. Lalu bagaimana caranya mendinginkan pada level permukaan di beberapa titik di Jakarta, sementara kota kekurangan lahan untuk membangun taman berskala Monas ?

Sehingga yang menjadi pertanyaan apakah mungkin mendinginkan suhu lingkungan permukaan jalan hingga dua digit lebih rendah dibandingkan suhu lingkungan sekitar? Sekaligus menghijaukan daerah tersebut, termasuk nilai tambah sebagai ruang publik baru? Disaat bersamaan mampu mengurangi beban listrik negara? Dan selain itu, hanya membutuhkan ruang tak lebih dari 100 meter persegi?

Di tahun 2004, Urban Ecosystems atau EcosistemUrbano melalui desain inovatif, estetis dan ekonomis, akhirnya menarik perhatian Madrid Municipal Housing Corporation's Residential Innovation Office dalam sebuah kompetisi desain. Tema kompetisi tersebut adalah ide desain Eco-Boulevard dimana para pesertanya diminta untuk mendesain ruang urban terbuka di Vallecas, pinggiran Madrid. Salah satu tuntutan kompetisi tersebut: meningkatkan tingkat kenyamanan, mempromosikan interaksi sosial antar warga, sekaligus memiliki moda keberlanjutan (sustainable) terhadap pertumbuhan kota. Eco-Boulevard tersebut nantinya akan menempati lahan sebesar 500 meter x 50 meter.

Urban Ecosystems kala itu mengajukan sebuah konsep inovatif yang dapat ditempatkan tak hanya di Madrid, melainkan di seluruh belahan dunia. Air Tree, demikian nama julukan terhadap proyek itu, kemudian menarik perhatian para dewan juri dan akhirnya selesai dibangun pada pertengahan tahun 2007.

Ide dari Air Tree sangatlah sederhana, bagaimana menciptakan suatu ruang komunitas, sekaligus memberi manfaat ekologis pada lingkungannya dan mudah didirikan dimana saja. Struktur utama instalasi Air Tree sendiri mudah dibongkar pasang dan dipindah, ringan serta dapat berupa hasil daur ulang. Sedianya Air Tree tersebut mampu menampung puluhan hingga ratusan pot tanaman yang disusun bertingkat, tergantung berapa besar dan bentuk struktur utamanya.

Salah satu fungsi Air Tree adalah sebagai sarana pembiakan tanaman atau tree nursery. Dimana apabila tanaman pot tersebut sudah mencapai tinggi tertentu, maka tanaman tersebut dapat dipindahkan di area lain, seperti tepi jalan ataupun area yang membutuhkan. Namun dalam kasus yang terjadi di Vallecas, Madrid, sedianya tanaman pot tersebut yang akan memenuhi Eco Boulevard yang akan terbentang sepanjang 500 meter dengan lebar 50 meter. Diharapkan setelah 20 tahun sejak struktur Air Tree pertama kali berdiri, maka Eco Boulevard sudah bertransformasi menjadi hutan kota, dan sesudahnya struktur tersebut dapat dipindahkan ke lokasi lain atau didaur-ulang.

Istimewanya, Air Tree ini diharapkan mampu 'menghidupi' diri sendiri. Karenanya pada bagian teratas Air Tree tersusun panel surya yang mampu menyuplai listrik. Aliran listrik itu digunakan sebagai sumber energi bagi pompa untuk mengalirkan air dari bawah keatas, serta untuk operasional tirai polyester yang berguna untuk pengaturan kelembaban. Dan bukannya tidak memungkinkan, apabila listrik yang dihasilkan oleh panel surya tersebut dapat digunakan untuk penerangan jalan atau dijual kepada negara. Solusi tersebut sesuai diterapkan di Jakarta, kota negara tropis, yang mendapatkan sinar matahari hampir merata sepanjang tahun.

'Keajaiban' Air Tree tidak hanya berhenti disini saja. Setelah instalasi pertama Air Tree terwujud di Madrid, terbukti bahwa suhu didalam lingkup Air Tree lebih rendah 8-10ÂșC dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya, seperti memiliki AC alami ditengah kota. Akhirnya ia pun mampu berfungsi sebagai paru-paru lokal di komunitas tempatnya berdiri. Filter polusi dan panas, itulah fungsi Air Tree yang lain, menyebabkan lingkungan didalam Air Tree menjadi nyaman dan ideal untuk berbagai kegiatan, mulai dari sekadar duduk-duduk hingga olahraga, menjadi sebuah ruang publik bagi komunitas.

Apakah Air Tree mampu diterapkan di Indonesia, setidaknya di Jakarta ? Jawabannya, adalah sangat memungkinkan. Apabila struktur baja dirasakan terlalu mahal, maka bukannya tak mungkin struktur tersebut digantikan dengan struktur bambu, yang lebih murah, berkelanjutan dan tersedia dalam jumlah besar di pasar lokal. Sistem Air Tree di Jakarta, bisa diintegrasikan dengan penampungan air, hingga di masa yang akan datang, tak hanya mampu berdiri sendiri dengan listrik dari panel surya, namun tidak tergantung pada layanan PAM. Terlebih lagi, apabila Air Tree tersebut dibangun disebuah kampung berswadaya, komunitas tersebut dapat memilih sendiri tanaman yang mereka inginkan, sehingga mereka pun terlibat aktif dalam upaya perawatan Air Tree.

Lalu dimanakah Air Tree ini sebaiknya berdiri di Jakarta ? Dimana saja, asal tersedia lahan terbuka minimal 100 meter persegi, entah itu di tengah taman kota, di lahan terbengkalai, hingga di tempat parkir truk yang banyak tersebar di bilangan Kota Tua dan Tanjung Priuk.

Sebetulnya ide dasar Air Tree akan keterlibatan masyarakat tak ada ubahnya seperti layaknya gerakan 'community garden' di sejumlah kota dunia, dan bukanlah hal yang asing di kehidupan beberapa kampung Jakarta, seperti di Banjarsari. Dalam beberapa data segi positif community garden di beberapa komunitas, seperti di Redfern, Sydney dan Brooklyn, New York, gerakan tersebut ternyata mampu mengurangi angka kriminalitas dalam jumlah yang cukup berarti.

Pada akhirnya, arsitektur kontemporer tidaklah harus serba wah, minimalis atau mengikuti tren dunia terkini, namun setidaknya arsitektur tersebut mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, memberi solusi lokal namun tetap mengglobal, berupaya untuk memberikan efek maksimum yang postif pada komunitas dengan campur tangan pihak luar seminimal mungkin. Akhirnya pemanasan global tak hanya menjadi tren dan gaya hidup belaka, namun bagaimana arsitektur dan komunitas belajar untuk menyiasati dan beradaptasi dengan lingkungan sambil berusaha untuk memperbaiki lingkungan tersebut bersama-sama.